Please wait. We're checking your browser...
Cerdas, Berintegritas, Bermakna.
Sonora.ID – Perkembangan media sosial telah mengubah perilaku konsumen dalam memilih dan menggunakan layanan kecantikan.
Instagram dan TikTok kini tidak sekadar menjadi platform berbagi konten, tetapi juga menjadi sumber informasi, referensi gaya, hingga sarana bagi pelanggan untuk menilai kualitas sebuah salon sebelum memutuskan menggunakan jasanya.
Soal fenomena ini, mahasiswa Universitas Tarakanita (UTarki) Fransiskus Xaverius Ingga Nusa Amadi mengungkapkan perubahan perilaku konsumen terlihat dari cara calon pelanggan mencari informasi sebelum menggunakan layanan salon.
Konsumen kini cenderung melakukan pencarian melalui berbagai platform digital untuk memastikan layanan yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan ekspektasi mereka.
“Media sosial membuat pelanggan memiliki lebih banyak referensi sebelum datang ke salon. Mereka tidak lagi datang tanpa informasi, tetapi sudah membawa gambaran mengenai gaya rambut, treatment, atau hasil yang mereka inginkan,” ujar Fransiskus kepada Sonora di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Sementara itu, dosen Universitas Tarakanita, Dr. Dra. Paula Tjatoerwidya Anggarina menilai perubahan tersebut menunjukkan bahwa media sosial telah menjadi bagian penting dalam proses pengambilan keputusan konsumen. Informasi visual dan pengalaman pelanggan lain dapat membentuk persepsi terhadap kualitas sebuah salon. “Di era media sosial, pelanggan dapat membandingkan berbagai salon dengan sangat mudah. Karena itu, reputasi digital menjadi semakin penting dalam membangun kepercayaan konsumen,” kata Paula dalam keterangan tertulisnya.
Jika sebelumnya pelanggan banyak mengandalkan rekomendasi keluarga, teman, majalah, atau televisi, kini calon pelanggan dapat melakukan riset secara mandiri melalui media sosial dan berbagai platform digital.
Instagram dan TikTok bahkan menjadi referensi penting untuk menemukan tren gaya rambut dan layanan kecantikan.
Fransiskus mengatakan perubahan tersebut membuat salon perlu memahami bahwa pengalaman pelanggan dimulai jauh sebelum mereka datang ke tempat usaha.
“Konten digital menjadi semacam pintu pertama bagi pelanggan untuk mengenal salon. Hasil pekerjaan stylist, video proses pengerjaan, foto sebelum dan sesudah perawatan, serta testimoni pelanggan dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk melakukan reservasi,” jelasnya.
Menurut Paula, kondisi tersebut membuat digital presence menjadi bagian penting dalam strategi bisnis salon.
Salon tidak cukup hanya memberikan layanan berkualitas di dalam tempat usaha, tetapi juga perlu membangun citra dan reputasi melalui konten digital yang menarik, konsisten, dan informatif.
“Salon harus mampu menunjukkan identitas dan keunggulannya melalui komunikasi digital. Konten yang konsisten dapat membantu konsumen memahami karakter brand sekaligus membangun ekspektasi terhadap layanan yang ditawarkan,” ujar Paula.
Perubahan perilaku konsumen juga berdampak pada meningkatnya ekspektasi terhadap hasil layanan salon. Konten visual di media sosial membuat pelanggan dapat melihat berbagai model rambut, teknik pewarnaan, treatment, dan hasil styling yang sedang populer. Tidak jarang, pelanggan datang dengan membawa foto atau video sebagai referensi.
Fransiskus menjelaskan, konsumen kini sering datang ke salon dengan membawa referensi tertentu yang mereka temukan di media sosial.
“Pelanggan bisa datang sambil menunjukkan foto atau video dari Instagram dan TikTok. Mereka memiliki ekspektasi agar hasil akhirnya mendekati referensi yang mereka lihat,” katanya.
Meningkatnya ekspektasi tersebut membuat pelaku bisnis salon harus semakin adaptif. Stylist tidak hanya dituntut menguasai teknik dasar, tetapi juga perlu mengikuti perkembangan tren sekaligus memahami karakteristik rambut dan kebutuhan setiap pelanggan.
Paula menambahkan, meningkatnya ekspektasi konsumen harus diimbangi dengan kemampuan bisnis salon dalam memberikan kualitas layanan yang sesuai dengan harapan pelanggan.
“Ketika ekspektasi konsumen semakin tinggi, kualitas layanan menjadi semakin menentukan. Salon harus mampu memberikan pengalaman yang sesuai atau bahkan melampaui harapan pelanggan,” tuturnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan Zeithaml, Bitner, dan Gremler (2018) yang menjelaskan bahwa perusahaan jasa perlu memberikan kualitas layanan yang sesuai atau melebihi harapan pelanggan.
Dalam konteks bisnis salon, tuntutan tersebut dapat diterjemahkan melalui inovasi teknik potong rambut, pewarnaan, styling, hingga berbagai treatment yang relevan dengan kebutuhan konsumen.
Media sosial juga mengubah cara konsumen mengambil keputusan. Pelanggan tidak lagi sekadar memilih salon berdasarkan lokasi atau rekomendasi personal.
Sebelum melakukan reservasi, calon pelanggan dapat membandingkan sejumlah salon berdasarkan portofolio, harga, lokasi, ulasan, dan pengalaman pelanggan sebelumnya.
Menurut Fransiskus, proses pencarian informasi tersebut menunjukkan bahwa konsumen semakin kritis sebelum mengeluarkan uang untuk sebuah layanan.
“Calon pelanggan biasanya ingin memastikan terlebih dahulu apakah salon tersebut memiliki stylist yang sesuai, hasil pekerjaan yang bagus, ulasan positif, dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ungkap Fransiskus.
Google Review menjadi salah satu sumber validasi yang dapat memengaruhi keputusan konsumen. Sementara itu, Instagram dan TikTok memberikan gambaran visual mengenai hasil layanan yang ditawarkan.
Kombinasi antara ulasan pelanggan dan portofolio digital dapat menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan calon konsumen.
Paula mengatakan testimoni dan portofolio memberikan bukti sosial yang dapat membantu konsumen mengambil keputusan.
“Ketika informasi yang mereka temukan konsisten dan positif, hambatan untuk mengambil keputusan menjadi lebih kecil. Karena itu, reputasi digital harus dipandang sebagai bagian dari aset bisnis salon,” jelas Paula.
Influencer dan Tren Viral Pengaruhi Pilihan Konsumen
Perubahan perilaku konsumen tersebut semakin kuat dengan hadirnya influencer dan tren viral. Model rambut yang muncul berulang kali di TikTok atau Instagram dapat dengan cepat meningkatkan minat konsumen terhadap layanan tertentu.
Fransiskus menilai kecepatan perubahan tren membuat bisnis salon harus memiliki kemampuan membaca perilaku konsumen. “Tren rambut di media sosial dapat berubah sangat cepat. Salon harus mampu mengikuti perkembangan tersebut agar layanan yang ditawarkan tetap relevan dengan kebutuhan pasar,” katanya.
Namun, mengikuti tren saja tidak cukup. Bisnis salon juga perlu menciptakan diferensiasi melalui inovasi layanan dan identitas brand. Ketika sebuah salon mampu menghasilkan konten yang menarik dan memiliki karakter kuat, salon tersebut berpeluang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga menjadi bagian dari pembentuk tren. Paula menilai kolaborasi dengan influencer dapat menjadi salah satu strategi untuk memperluas jangkauan pasar, sepanjang dilakukan secara relevan dengan karakter brand.
“Influencer dapat membantu memperkenalkan layanan kepada audiens yang lebih luas. Namun, kolaborasi tersebut harus tetap konsisten dengan positioning salon agar tidak sekadar menghasilkan perhatian, tetapi juga membangun persepsi brand,” ujarnya. Transformasi perilaku konsumen tersebut pada akhirnya menuntut bisnis salon untuk semakin adaptif terhadap perubahan. Konsumen saat ini memiliki lebih banyak pilihan sekaligus lebih mudah membandingkan kualitas layanan. Chaffey dan Ellis-Chadwick (2019) menekankan pentingnya strategi digital marketing dalam membangun hubungan dengan konsumen di tengah perubahan lingkungan bisnis.
Bagi bisnis salon, media sosial dapat dimanfaatkan bukan hanya sebagai media promosi, tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan dengan pelanggan.
Konten edukasi tentang perawatan rambut, inspirasi gaya, hasil pekerjaan stylist, testimoni pelanggan, hingga informasi mengenai layanan dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi digital.
Menurut Fransiskus, kualitas layanan tetap menjadi fondasi utama meskipun media sosial memiliki peran besar dalam menarik perhatian konsumen.
“Media sosial mungkin menjadi alasan pelanggan mengenal sebuah salon, tetapi kualitas layanan yang mereka rasakan akan menentukan apakah mereka puas dan bersedia kembali,” ujarnya.
Paula menambahkan, pengalaman pelanggan harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari strategi komunikasi digital.
“Komunikasi digital dan kualitas layanan harus berjalan beriringan. Jangan sampai promosi di media sosial menciptakan ekspektasi yang terlalu tinggi, sementara pengalaman nyata pelanggan tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan,” katanya.
Karena itu, strategi bisnis salon di era media sosial perlu menggabungkan kualitas layanan, inovasi, tren kecantikan, kekuatan konten digital, dan komunikasi dengan pelanggan.
Kemampuan mengintegrasikan seluruh aspek tersebut menjadi semakin penting untuk mempertahankan loyalitas pelanggan dan menghadapi persaingan industri kecantikan yang semakin dinamis.
Transformasi perilaku konsumen menunjukkan bahwa perjalanan pelanggan salon kini dimulai jauh sebelum mereka memasuki salon.
Pencarian di Google, penelusuran Instagram, menonton video TikTok, membaca ulasan, hingga melihat portofolio stylist menjadi bagian dari proses membangun kepercayaan.
Fransiskus menyimpulkan bahwa bisnis salon perlu melihat media sosial bukan sekadar sebagai tempat beriklan, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan pengalaman konsumen.
“Salon yang mampu memahami perubahan perilaku konsumen dan menerjemahkannya ke dalam layanan serta komunikasi digital yang relevan akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang,” pungkasnya.
Paula menegaskan bahwa transformasi digital pada akhirnya harus tetap berorientasi pada kebutuhan konsumen.
“Teknologi dan media sosial adalah sarana. Faktor terpenting tetap bagaimana bisnis mampu memberikan nilai, pengalaman, dan kualitas layanan yang benar-benar dirasakan pelanggan,” tutupnya.
Dengan demikian, transformasi perilaku konsumen di era media sosial bukan hanya mengubah cara pelanggan menemukan salon, tetapi juga mengubah cara bisnis salon membangun kepercayaan, menawarkan layanan, mengikuti tren, dan mempertahankan hubungan dengan pelanggan. Kemampuan membaca perubahan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting bagi keberlanjutan bisnis salon di tengah persaingan industri kecantikan yang semakin kompetitif.
Universitas Tarakanita
Cerdas, Berintegritas, Bermakna