Sonora.ID – Universitas Tarakanita (
UTarki) memperoleh lima kuota
Kartu Indonesia Pintar (
KIP) dari pemerintah pusat pada 2026. Selain itu, kampus tersebut juga mendapatkan lebih dari 30 kuota KIP aspirasi untuk membantu mahasiswa memperoleh akses pendidikan tinggi. Rektor Universitas Tarakanita Antonius Singgih Setiawan mengatakan, kuota KIP pemerintah pusat diperoleh melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Sementara KIP aspirasi diperoleh melalui kerja sama dengan anggota Dewan. “Kalau untuk tahun ini penerima KIP yang dari pemerintah pusat ada berapa, memang kita masih dapat lima,” ujar Antonius di sela-sela Dies Natalis ke-1 Universitas Tarakanita di Kampus UTarki, Jakarta Timur, Rabu (23/9/2026). Menurut Antonius, jumlah kuota KIP pemerintah pusat tersebut masih menyesuaikan dengan kondisi Universitas Tarakanita yang berada dalam proses transisi sebagai institusi yang relatif baru. Kuota KIP aspirasi juga diperoleh setelah proses pengajuan berjalan dan kampus mendapatkan sisa kuota. “Kalau untuk yang aspirasi memang kita mendapatkannya agak terlambat, jadi memang sisa-sisa kuota. Tapi puji Tuhan kita masih dapat tiga puluhan lebih,” katanya. Antonius mengatakan, jumlah penerima KIP aspirasi masih berpeluang berada di kisaran 30 hingga 40 mahasiswa. Program tersebut dinilai penting karena sejalan dengan visi Universitas Tarakanita yang memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan akses pendidikan.
“Ini juga wujud bagaimana kita harus memperdulikan masyarakat kebanyakan. Apalagi visi institusi kita ini juga berpihak pada kaum yang termarjinalkan, kaum lemah,” ujarnya. Ia menegaskan, Universitas Tarakanita tidak dapat menjalankan upaya memperluas akses pendidikan seorang diri. Karena itu, kolaborasi dengan pemerintah dan pihak lain diperlukan untuk mendukung mahasiswa yang membutuhkan bantuan pendidikan. Di luar program KIP, Universitas Tarakanita saat ini masih menerapkan kebijakan tanpa uang pangkal bagi mahasiswa. Sementara biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) berada pada kisaran Rp3 juta hingga Rp7 juta, tergantung prioritasnya. Namun, kebijakan tersebut akan mengalami perubahan pada tahun depan. Antonius mengatakan, Yayasan akan meningkatkan partisipasi masyarakat melalui penerapan uang pangkal. “Untuk tahun depan memang ada kebijakan baru dari Yayasan. Partisipasi masyarakat harus lebih ditingkatkan lagi. Memang nanti ada uang pangkal,” katanya. Meski demikian, pembayaran uang pangkal nantinya akan menggunakan skema bertahap. Pada tahap awal atau early bird, calon mahasiswa berpeluang memperoleh potongan hingga 60 persen.
Besaran potongan akan disesuaikan dengan tahapan pembayaran hingga periode penerimaan berakhir. Antonius menjelaskan, kebijakan tanpa uang pangkal yang selama ini diterapkan merupakan bagian dari tahap awal Universitas Tarakanita setelah menjadi universitas. Skema tersebut diberikan untuk memperkenalkan institusi kepada masyarakat. “Bagaimanapun yang kemarin terjadi itu lebih proses awal. Jadi kita memperkenalkan ada harga spesial yang diberikan kepada masyarakat,” ujarnya. Sementara itu, dari sisi jumlah mahasiswa, Universitas Tarakanita mencatat pertumbuhan sekitar 95 persen hingga 21 September 2026 dibandingkan periode sebelumnya. Setelah memperhitungkan mahasiswa yang akan lulus, pertumbuhan mahasiswa aktif diperkirakan berada di sekitar 80 persen. Antonius mengatakan, perkembangan tersebut menjadi catatan positif bagi Universitas Tarakanita di tengah kondisi penerimaan mahasiswa yang menjadi tantangan bagi perguruan tinggi.
Untuk program studi, Sekretaris dan Ilmu Komunikasi masih menjadi jurusan yang banyak diminati mahasiswa baru. Program studi Bisnis Digital juga mencatat jumlah mahasiswa yang cukup banyak, sementara program studi lainnya menunjukkan perkembangan positif. Dalam Dies Natalis ke-1, Antonius menekankan pentingnya membangun komitmen bersama dalam proses transisi Universitas Tarakanita. Menurut dia, perubahan status institusi juga membutuhkan pembentukan budaya baru yang melibatkan seluruh elemen kampus. “Ini proses transisi, sejarah panjang, kemudian menjadi hal baru. Ini tentunya harus membangun budaya baru. Maka komitmen itu harus bertumbuh bersama,” katanya.