Please wait. We're checking your browser...
Cerdas, Berintegritas, Bermakna.
KOMPAS.com – Universitas Tarakanita (UTarki) merayakan Dies Natalis pertama pada Rabu (23/9/2026) dengan tema “Menumbuhkan Komitmen untuk UTarki Bermakna”. Rektor UTarki, Dr. Antonius Singgih Setiawan, S.E., M.Si., Ak., ACPA dalam sidang senat terbuka melaporkan jumlah mahasiswa aktif pada semester genap tahun akademik 2025-2026 masih sebanyak 298 orang. Namun kini sudah menunjukkan adanya peningkatan. “Merujuk pada data komparasi jumlah mahasiswa baru periode 2025-2026, sebanyak 152 mahasiswa baru, dan 2026-2027 per 21 September 2026 yang lalu, jumlahnya 300 mahasiswa baru,” kata Singgih di Kampus UTarki, Pondok Kelapa, Jakarta Timur, Rabu. Saat ini UTarki memiliki 34 dosen yang terdaftar di PDDikti. Akan tetapi, menurut Singgih kampusnya tetap memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan untuk meningkatkan kualifikasi dosen.
Kabar baiknya, pada periode 2025-2026 terdapat dua dosen yang memperoleh jenjang profesional asisten ahli dan empat dosen yang tersertifikasi pendidik baru.
“Selama periode 2025-2026, terdapat sebanyak 8 prestasi mahasiswa dalam kompetisi akademik, di antaranya adalah juga prestasi dalam kompetisi tingkat internasional serta 4 prestasi dalam kompetisi non-akademik,” lanjut Rektor. Provinsial Kongregasi CB Provinsi Indonesia, Sr. Dr. Yustiana Wiwik Iswanti CB dalam sambutannya menyapa para mahasiswa baru angkatan 2026-2027. “Selamat datang di kampus yang baru. Selamat datang untuk mengasah bakat, mengembangkan kecerdasan, membentuk karakter, serta menjadikan Anda pribadi yang berintegritas dan agen perubahan yang bermakna,” ucap Sr. Yustiana. Sementara itu, Ketua Tim Kerja TU-BMN LLDikti Wilayah III, Agung Permana menyatakan masa satu tahun sejak STARKI berubah nama menjadi UTarki adalah fase operasional yang paling krusial. “Keberhasilan sebuah perguruan tinggi diukur dari seberapa nyata dampak yang diberikan kepada masyarakat dan penyelesaian masalah di lapangan. Kementerian saat ini sangat mendorong terwujudnya suatu ekosistem yang bernama Diktisaintek Berdampak. Artinya, penyelenggaraan tri dharma perguruan tinggi khususnya riset dan inovasi yang lahir dari laboratorium maupun ruang kelas harus memiliki hilirisasi yang jelas,” Agung mengingatkan.
Singgih mengatakan UTarki tahun ini masih berkomitmen menghadirkan perkuliahan tanpa uang pangkal, sejak tahun lalu berubah status menjadi unviersitas. Biaya kuliah per semester atau UKT di UTarki juga masih di bawah Rp 10 juta. “Untuk periode sekarang masih tanpa uang pangkal, artinya masih menjadi diskon 100 persen Kalau UKT-nya memang Rp 3 juta sampai Rp 7 juta ya, tergantung prodinya ya. Ini masih berjalan,” ucap Singgih usai acara. Namun tahun ada perubahan dari yayasan yang mengelola UTarki. “Memang nanti (2027) ada uang pangkal. Tetapi proses pembayaran uang pangkalnya itu nanti akan ada term-termnya ya. Jadi kalau kita ada early bird, nanti ada potongan 60 persen misalnya, nanti di fase tengah ada potongan berapa, sampai dengan nanti menjelang akhir, mungkin uang pangkalnya akan 100 persen gitu,” ungkap Singgih. Ia berujar pembebasan uang pangkal dalam dua tahun ini merupaka bagian dari pengenalan UTarki kepada masyarakat.
Mahasiswa UTarki juga mendapatkan bantuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dari pemerintah pusat melalui Kemendikti saintek. Tahun ini ada lima orang mahasiswa baru yang mendapatkannya. Selain itu, UTarki juga berkolaborasi dengan anggota dewan dari partai tertentu sehingga berkesempatan mendapatkan bantuan yang bernama KIP Aspirasi.
Liputan Media : Kompas.com
Universitas Tarakanita
Cerdas, Berintegritas, Bermakna