Please wait. We're checking your browser...

Universitas Tarakanita

Cerdas, Berintegritas, Bermakna.

Informasi

Follow Us

CB+: UTarki Membangun Budaya Cerdas, Berintegritas, dan Bermakna

Jakarta, 10 September 2026 – Sebuah budaya tidak dibangun hanya melalui kata-kata yang tertulis atau slogan yang terus diulang. Budaya tumbuh ketika nilai mulai terlihat dalam cara seseorang berpikir, bertindak, bekerja, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Semangat inilah yang terus dibangun Universitas Tarakanita (UTarki) melalui CB+ (Cerdas, Berintegritas, Bermakna) sebagai nilai yang dihidupi bersama oleh seluruh warga kampus. Nilai tersebut tidak hanya ditujukan kepada mahasiswa, tetapi juga kepada seluruh stakeholder yang bekerja dan berkarya di lingkungan UTarki.

Dalam sebuah sesi yang menghadirkan Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan, M.T., M.M., I.P.U., A.E. sebagai pemateri, penguatan nilai CB+ menjadi salah satu hal yang disoroti dalam melihat bagaimana budaya kampus dapat dibangun melalui tindakan nyata. Prof. Agustinus, yang akrab disapa Prof. API, mengajak seluruh warga UTarki untuk tidak berhenti pada pemahaman mengenai nilai, tetapi mulai menerapkannya dalam pekerjaan, pembelajaran, maupun kehidupan sehari-hari.

Nilai Cerdas tidak hanya berbicara mengenai kemampuan akademik atau penguasaan terhadap suatu bidang. Cerdas juga berarti mampu berpikir kritis, kreatif, adaptif, solutif, dan kompeten dalam menghadapi berbagai persoalan.

Dalam lingkungan kerja maupun akademik, persoalan dapat dilihat sebagai peluang untuk menghasilkan gagasan dan solusi baru. Menurut Prof. Agustinus, kreativitas dan inisiatif menjadi bagian penting dalam mengembangkan UTarki. Kreativitas bukan sekadar membuat sesuatu terlihat berbeda, tetapi bagaimana menghadirkan sesuatu yang sebelumnya tidak ada melalui ide, inovasi, dan tindakan nyata.

Karena itu, mahasiswa maupun stakeholder UTarki memiliki ruang untuk terus berinovasi sesuai dengan bidang dan tanggung jawab masing-masing. Sebuah gagasan tidak harus selalu besar untuk memberikan perubahan. Hal yang sederhana pun dapat menjadi berarti ketika berangkat dari kepekaan melihat persoalan dan keberanian untuk mencari solusi.

Di sisi lain, kecerdasan membutuhkan integritas sebagai dasar dalam penerapannya. Berintegritas berarti memiliki cara bertindak yang jujur, bertanggung jawab, konsisten, dan dapat dipercaya.

Integritas tidak berhenti pada pemahaman mengenai nilai, tetapi perlu terlihat dalam perilaku sehari-hari. Bagi stakeholder UTarki, integritas dapat diwujudkan melalui profesionalisme, kedisiplinan, tanggung jawab terhadap pekerjaan, kepatuhan terhadap aturan, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.

Dalam kehidupan akademik, integritas dapat hadir melalui kejujuran dalam proses pembelajaran, tidak melakukan plagiarisme, menghargai karya orang lain, serta menjalankan tanggung jawab sebagai mahasiswa dengan baik.

Ketika kecerdasan dan integritas berjalan bersama, kontribusi yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi. Di sinilah nilai Bermakna menjadi penting.

Bermakna berarti apa yang dilakukan tidak sekadar bertujuan menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memiliki manfaat dan memberikan dampak positif bagi orang lain. Setiap orang dapat memberikan kontribusi melalui perannya masing-masing.

Dosen dapat menghasilkan penelitian dan pembelajaran yang relevan. Tenaga kependidikan dapat memberikan pelayanan terbaik. Mahasiswa dapat menghasilkan karya dan terlibat dalam kegiatan sosial. Sementara pimpinan dapat menghadirkan kebijakan yang mendukung perkembangan institusi.

Dalam sesi tersebut, Prof. Agustinus juga menekankan bahwa kehidupan perlu diarahkan pada aktivitas yang bermanfaat dan positif. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai karya, seperti menulis artikel ilmiah, menghasilkan buku, melakukan riset, maupun menciptakan inovasi yang memberikan solusi.

Menurutnya, penelitian juga tidak seharusnya berhenti ketika laporan selesai dibuat. Riset yang dilakukan perlu memiliki keberlanjutan atau sustainability, sehingga hasil penelitian dapat terus dikembangkan, menghasilkan pengalaman, menemukan solusi, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Semangat kebermaknaan tersebut juga berkaitan dengan arah pengembangan komunitas mahasiswa di UTarki. Salah satu perhatian yang turut didorong adalah penguatan komunitas mahasiswa, dari sekitar 300 menjadi 700 mahasiswa.

Namun, pertumbuhan komunitas tersebut bukan semata-mata mengenai jumlah. Lebih dari itu, yang ingin dibangun adalah ekosistem mahasiswa yang aktif, kolaboratif, kreatif, dan mampu memberikan kontribusi.

“Nilai menjadi nyata ketika dapat dilihat dalam perilaku, dibuktikan melalui tindakan, dan dirasakan manfaatnya oleh orang lain,” ujar Prof. Agustinus.

Pada akhirnya, CB+ bukan sekadar slogan, melainkan nilai yang diharapkan menjadi bagian dari budaya dalam setiap aktivitas di lingkungan UTarki. Cerdas dalam berpikir, berintegritas dalam bertindak, dan bermakna dalam berkarya menjadi semangat yang terus dibangun bersama.

Ketika nilai tersebut tidak hanya dipahami, tetapi benar-benar dihidupi, setiap pekerjaan, pelayanan, pembelajaran, penelitian, dan karya yang dihasilkan dapat memberikan dampak positif bagi sesama sekaligus membawa UTarki tumbuh secara berkelanjutan.

Our Newsletter

Masukkan email Anda dan kami akan mengirimkan informasi lebih lanjut.