Sonora.ID – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) kian masif dan telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, hingga berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.
Teknologi ini kini tidak lagi terbatas pada ruang riset, melainkan sudah menjadi bagian dari rutinitas, termasuk di kalangan anak-anak.
Penulis sekaligus pengamat isu teknologi digital, Indar Muslimah Kusmadi, menilai fenomena ini sebagai titik balik penting dalam relasi manusia dengan teknologi.
“AI sekarang bukan sekadar alat bantu, tetapi sudah menjadi ‘partner berpikir’ yang bisa memberikan jawaban instan, cepat, dan terasa cerdas,” ujar Indar dalam keterangan tertulisnya kepada Sonora di Jakarta, Jumat (10/4/2024).
Ia menggambarkan bagaimana seorang siswa kini tidak lagi mencari jawaban melalui mesin pencari konvensional, melainkan langsung bertanya kepada AI dan mendapatkan respons dalam hitungan detik.
Kehadiran Generative AI bahkan mempercepat perubahan tersebut, karena mesin tidak hanya mengolah data, tetapi juga mampu menciptakan teks, gambar, hingga video.
Dalam beberapa tahun terakhir, adopsi AI meningkat drastis di berbagai sektor. Perusahaan memanfaatkan teknologi ini untuk meningkatkan efisiensi kerja, mempercepat analisis data, hingga menggantikan pekerjaan rutin. Indar menyebut, nilai investasi global di bidang AI telah mencapai ratusan miliar dolar AS.
“Ini menandakan bahwa AI bukan sekadar tren sementara, tetapi sudah menjadi fondasi utama ekonomi digital masa depan,” jelasnya.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan tersebut, muncul kekhawatiran terkait kesiapan pengguna, khususnya anak-anak. Sejumlah negara seperti Australia dan Prancis telah menerapkan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia tertentu sebagai langkah perlindungan.
“Jika media sosial saja dibatasi, maka AI yang jauh lebih kompleks juga perlu mendapatkan perhatian yang sama,” tegas Indar.
Tanpa literasi digital yang memadai, anak berisiko menerima informasi tanpa verifikasi, bergantung pada jawaban instan, serta kehilangan kemampuan berpikir kritis.
“Anak bisa tumbuh hanya sebagai pengguna teknologi, bukan pengendali teknologi jika tidak ada pendampingan,” lanjutnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa AI tidak harus dipandang sebagai ancaman, selama dirancang dengan pendekatan yang tepat dan berorientasi pada pembelajaran.
“AI untuk anak seharusnya tidak hanya memberi jawaban, tetapi juga menjelaskan prosesnya dan mendorong mereka untuk berpikir,” ujarnya.
Di sisi lain, dampak AI juga semakin nyata di dunia kerja dan pendidikan. Berbagai tugas rutin seperti penulisan laporan, pembuatan kode, desain konten, hingga layanan pelanggan kini mulai diambil alih oleh sistem otomatis. Bahkan, muncul tren baru berupa AI agents yang mampu bekerja secara mandiri.
“Di sinilah dilema muncul, apakah cepat selalu berarti lebih baik?” kata Indar.
Ia mengingatkan bahwa percepatan teknologi tidak selalu sejalan dengan kesiapan manusia. Sejumlah risiko mulai terlihat, mulai dari kebocoran data, ketergantungan berlebihan, hingga penurunan kemampuan berpikir mandiri.
“Karena itu, perlu regulasi, edukasi, dan desain AI yang bertanggung jawab agar teknologi ini benar-benar memberi manfaat,” tutupnya.