Please wait. We're checking your browser...
Cerdas, Berintegritas, Bermakna.
Studi Ilmu komunikasi adalah disiplin ilmu yang fokus mempelajari pola komunikasi antarmanusia dan manusia dengan lingkungan sekitarnya. Bagaimana komunikator menyampaikan pesan melalui media kepada komunikan, dan memperoleh feedback dari komunikan. Ilmu Komunikasi banyak membicarakan isi pesan, media yang dipakai, dan interaksi sosial.
Secara historis, kelahiran ilmu komunikasi tak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan yang lebih tua. Komunikasi sebagai ilmu justru tumbuh dari refleksi filosofis mengenai bahasa, makna, kebenaran, dan hubungan antarmanusia. Maka untuk memahami fondasi ilmu komunikasi secara utuh, penting untuk menelusuri dimensi filosofis yang membentuk kerangka konseptual ilmu komunikasi itu sendiri.
Sejak zaman Yunani kuno, pemikiran tentang komunikasi sudah jadi bagian dari diskursus filsafat. Memang, para filsuf di masa itu tidak menggunakan istilah “ilmu komunikasi” seperti yang kita kenal hari ini. Namun, aktivitas dan pengajaran mereka hampir semuanya melibatkan kerja-kerja komunikasi dan inti dari komunikasi, yaitu bagaimana manusia menyampaikan gagasan dan bagaimana kebenaran dipahami melalui dialog.
Kita ingat Socrates. Filsuf Yunani klasik ini menempatkan dialog sebagai sarana utama mencari dan memunculkan kebenaran. Melalui tanya- jawab yang dikenal sebagai dialektika, Socrates mencoba untuk menjernihkan pemikiran hingga memperjelas komunikasi di antara orang-orang yang terlibat di dalamnya. Dialektika menegaskan bahwa sesuatu yang benar tidak sekadar disampaikan secara sepihak, tetapi ditemukan melalui proses komunikasi yang kritis dan reflektif.
Sang murid, Plato sendiri menegaskan pentingnya komunikasi dalam pembentukan pengetahuan. Ia menulis, “dialog adalah jalan bagi jiwa untuk mendekati kebenaran.” Pandangan ini menunjukkan bahwa komunikasi bukan hanya aktivitas sosial, tetapi juga proses epistemologis. Melalui komunikasi, manusia membangun pengetahuan bersama.
Pemikiran ini kemudian dikembangkan dengan lebih sistematis oleh Aristoteles. Dalam bukunya Retorika, Aristoteles menjelaskan bahwa retorika adalah kemampuan untuk menemukan cara persuasi dalam setiap situasi. Menurut Aristoteles, komunikasi persuasif terdiri dari tiga unsur yakni ethos, pathos, dan logos. Konsep ini menjadi fondasi penting dalam kajian komunikasi modern, khususnya dalam studi retorika, persuasi, dan komunikasi politik.
Pemahaman bersama
Kontribusi filsafat dalam perjalanan dan perkembangan ilmu komunikasi terus berlanjut hingga era modern. Dalam perkembangan modern, filsafat bahasa dan filsafat sosial semakin memperdalam pemahaman tentang komunikasi. Misalnya, Jürgen Habermas mengembangkan teori tindakan komunikatif (Theory of Communicative Action).
Habermas menekankan bahwa komunikasi ideal adalah komunikasi yang bebas dari dominasi dan berorientasi pada pencapaian pemahaman bersama. Menurutnya, “rasionalitas manusia tidak hanya muncul dalam tindakan instrumental, tetapi juga dalam tindakan komunikatif yang bertujuan mencapai kesepahaman.”
Pandangan ini memperlihatkan bahwa komunikasi memiliki dimensi etis dan sosial yang kuat. Komunikasi bukan sekadar pertukaran pesan, tetapi juga proses pembentukan ruang publik yang rasional.
Perlu diakui bahwa kontribusi filsafat untuk kehadiran studi ilmu komunikasi, sangat besar. Wilbur Schramm, salah satu perintis studi komunikasi modern mengatakan bahwa studi komunikasi berkembang dari berbagai disiplin, termasuk psikologi, sosiologi, dan filsafat. Ia menulis bahwa komunikasi pada dasarnya adalah upaya manusia untuk berbagi makna.
Pernyataan ini memiliki implikasi filosofis mendalam. Bahwa makna tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dibangun melalui interpretasi dan interaksi sosial. Dengan demikian, komunikasi selalu berkaitan dengan persoalan epistemologi dan hermeneutika.
Dunia Makna
Hubungan erat filsafat dan komunikasi juga ditegaskan oleh James W. Carey. Ia menyayangkan kalau komunikasi hanya dipahami sebagai proses transmisi informasi. Ia lalu mengusulkan ritual view of communication. Di sini, komunikasi dipahami sebagai proses simbolik yang memelihara dan membangun realitas sosial.
Carey menulis, komunikasi adalah proses di mana realitas diproduksi, dipelihara, diperbaiki, dan diubah. Pernyataan ini menunjukkan bahwa komunikasi memiliki dimensi ontologis. Melalui komunikasi, masyarakat membangun dunia makna yang mereka huni bersama.
Pengaruh filsafat juga terlihat dalam kajian etika komunikasi. Pertanyaan tentang kebenaran, tanggung jawab, dan kejujuran dalam komunikasi tidak dapat dijawab hanya dengan pendekatan teknis. Ia membutuhkan refleksi moral mendalam. Dalam konteks ini, tradisi filsafat moral memberikan kerangka untuk memahami tanggung jawab komunikator dalam masyarakat.
Filsafat hermeneutika yang dikembangkan oleh para filsuf hermeneutika tak dapat disangkal kontribusi besarnya. Hans-Georg Gadamer menekankan bahwa pemahaman selalu terjadi melalui proses interpretasi dalam dialog. Menurutnya, makna tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pengirim pesan. Makna muncul dalam pertemuan antara teks, konteks, dan pembaca.
Dengan demikian, ilmu komunikasi punya hubungan erat dengan filsafat. Filsafat memberikan dasar konseptual bagi pemahaman tentang bahasa, makna, kebenaran, dan relasi antarmanusia. Tanpa fondasi filosofis tersebut, studi komunikasi berisiko menjadi sekadar kajian teknis mengenai media dan pesan.
Sebaliknya, dengan memahami akar filosofisnya, ilmu komunikasi dapat berkembang sebagai disiplin yang tidak hanya menjelaskan proses komunikasi, tetapi juga merefleksikan makna dan tanggung jawab komunikasi dalam kehidupan manusia.
Dalam perspektif ini, komunikasi bukan hanya alat penyampaian informasi. Ia adalah proses fundamental yang memungkinkan manusia membangun pengetahuan, membentuk masyarakat, dan mencari kebenaran bersama.
Stefanus Poto Elu,S.S.,M.I.Kom.
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi
Universitas Tarakanita
Cerdas, Berintegritas, Bermakna