Please wait. We're checking your browser...
Cerdas, Berintegritas, Bermakna.
“Sekarang satu pekerjaan saja rasanya tidak cukup. Jika ada waktu luang, kenapa tidak mencari penghasilan tambahan lewat internet?”
Pernyataan seperti ini mungkin dulu sering kita dengar ketika membicarakan karir dan masa depan pekerjaan. Memiliki satu pekerjaan tetap, gaji bulanan yang stabil, serta jalur karir yang jelas sering dianggap sebagai bentuk keamanan finansial yang ideal. Namun, apakah konsep tersebut masih relevan bagi generasi muda saat ini?
Di era digital saat ini, semakin banyak anak muda yang tidak lagi bergantung pada satu sumber penghasilan. Seseorang bisa bekerja sebagai karyawan pada pagi hingga sore hari, tetapi di waktu luang mereka dapat menjalankan berbagai aktivitas ekonomi digital seperti menjadi freelancer, menjual produk digital, mengelola akun media sosial atau mempromosikan produk melalui program afiliasi.
Fenomena ini dapat disebut sebagai side hustle, yaitu aktivitas usaha atau pekerjaan tambahan yang dijalankan di luar pekerjaan utama. Berbeda dengan bisnis konvensional yang membutuhkan toko atau tempat usaha fisik, side hustle berbasis digital dapat dilakukan dari mana saja hanya dengan laptop, smartphone dan koneksi internet.
Perkembangan teknologi digital membuat batas antara aktivitas sehari-hari dan aktivitas ekonomi menjadi semakin tipis. Seseorang yang terlihat sedang membuka laptop di kafe atau menggunakan ponsel di sela waktu istirahat kerja bisa saja sedang membalas pesan klien, mengelola toko daring, atau memantau penjualan di platform digital. Kondisi ini menunjukan bagaimana ekonomi digital membuka peluang baru bagi individu untuk memperoleh penghasilan secara lebih fleksibel tanpa harus bergantung pada satu pekerjaan saja.
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara orang bekerja sekaligus membuka berbagai peluang ekonomi baru. Internet dan platform digital memungkinka individu menawarkan produk atau jasa kepada pasar yang lebih luas tanpa harus memiliki modal besar.
Saat ini, berbagai platform freelance, marketplace, hingga media sosial telah menjadi ruang baru bagi individu untuk memperoleh penghasilan. Seseorang yang memiliki keterampilan desain grafis, misalnya dapat menawarkan jasanya kepada klien dari berbagai daerah. Demikian pula seseorang yang memiliki kemampuan menulis, membuat konten atau mengelola media sosial dapat memperoleh proyek kerja secara daring.
Model bisnis baru dalam ekonomi digital juga turut mendorong munculnya berbagai peluang side hustle. Konsep secara creator economy, affiliate marketing, hingga penjualan produk digital memungkinkan individu memperoleh penghasilan dari aktivitas yang sebelumnya tidak selalu dianggap sebagai pekerjaan formal.
Bagi banyak anak muda, peluang ini menjadi pintu masuk untuk mencoba berbagai aktivitas ekonomi tanpa harus meninggalkan pekerjaan utama mereka. Kemudahan yang ditawarkan oleh ekosistem digital ini tidak hanya menjadi pilihan bagi sebagian orang, tetapi telah menjadi solusi nyata di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.
Fenomena side hustle di Indonesia menunjukan tren yang semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Data menunjukan bahwa pada tahun 2023 sekitar 15,45% pekerja memiliki pekerjaan sampingan, meningkat dari 11,25% pada tahun 2021. Kenaikan ini tidak terlepas dari berbagai faktor, mulai dari tekanan ekonomi hingga semakin mudahnya akses terhadap teknologi digital.
Salah satu pendorong utama munculnya tren ini adalah tekanan ekonomi yang semakin terasa. Kenaikan harga barang kebutuhan hidup dan inflasi membuat banyak pekerja merasa bahwa satu sumber penghasilan saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun menyiapkan tabungan masa depan. Situasi ini semakin terasa setelah masa pandemi, ketika banyak sektor pekerjaan mengalami ketidakpastian. Bagi sebagian orang, side hustle menjadi cara untuk menambah pendapatan sekaligus menjaga stabilitas finansial.
Selain faktor ekonomi, perkembangan teknologi digital juga memainkan peran penting dalam mendorong popularitas side hustle. Selama masa pandemi, pembatasan aktivitas sosial mendorong percepatan penggunaan berbagai platform digital. Banyak individu mulai memanfaatkan platform freelancer, marketplace, maupun media sosial untuk mencari peluang penghasilan tambahan. Aktivitas seperti menjual produk secara daring, menjadi kreator konten, menjalankan program afiliasi, hingga menawarkan jasa digital menjadi semakin mudah dilakukan.
Generasi muda, khususnya generasi Z menjadi kelompok yang paling aktif memanfaatkan peluang ini. Dengan tingkat literasi digital yang relatif tinggi, mereka mampu memanfaatkan berbagai platform untuk membangun aktivitas ekonomi baru, mulai dari kreator konten hingga menjalankan usaha kecil berbasis digital. Faktor lain yang membuat side hustle semakin diminati adalah fleksibilitas kerja yang ditawarkan. Berbeda dengan pekerjaan konvensional yang terikat pada jam kerja tertentu, banyak side hustle dapat dijalankan di luar jam kerja utama. Fleksibilitas ini memungkinkan seseorang mengelola waktu secara lebih bebas sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan usaha secara bertahap.
Kedepan, tren side hustle diperkirakan akan terus berkembang. Munculnya berbagai peluang baru di bidang teknologi, seperti pembuatan konten berbasis kecerdasan buatan, bisnis dropshipping, hingga layanan berbasis keterampilan personal, menunjukan bahwa ekonomi semakin menjadi bagian dari dinamika dunia kerja modern. Dengan kata lain, side hustle tidak lagi sekedar pekerjaan tambahan sementara, tetapi mulai menjadi salah satu pola kerja baru di era ekonomi digital.
Perkembangan teknologi digital dan dinamika ekonomi juga mempengaruhi cara generasi muda memandang pekerjaan. Jika pada masa lalu pekerjaan sering diidentikkan dengan jabatan tinggi atau stabilitas jangka panjang dalam satu organisasi, bagi banyak generasi muda saat ini pekerjaan lebih dipahami sebagai sarana untuk mencapai kemandirian finansial dan keseimbangan hidup.
Transformasi digital juga membuka berbagai peluang ekonomi baru. Melalui internet dan berbagai platform digital, individu kini dapat menawarkan produk maupun jasa secara lebih luas tanpa harus memiliki modal besar. Berbagai aktivitas seperti menjual produk secara daring, menjadi kreator konten, menjalankan program affiliate, hingga menawarkan jasa digital kini semakin mudah dilakukan dan menjadi bagian dari ekosistem bisnis digital yang terus berkembang.
Survei yang dilakukan oleh Deloitte pada (2025) terhadap responden di Indonesia menunjukan bahwa kemandirian finansial menjadi tujuan utama bekerja bagi generasi muda. Sekitar 34% GenZ dan 33% milenial menyebutkan stabilitas finansial sebagai prioritas utama dalam karir mereka. Pada saat yang sama, survei tersebut juga mencatat bahwa 77% Gen Z dan 74% milenial mengalami tingkat stres kerja yang cukup tinggi, yang umumnya berkaitan dengan biaya kerja dan beban pekerjaan. Kondisi ini membuat sebagian generasi muda mulai mencari alternatif aktivitas yang lebih fleksibel, salah satunya melalui side hustle.
Temuan serupa juga diungkapkan IDN Research Institute (2026) melalui laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026, yang menunjukan bahwa generasi muda semakin menuntut sistem kerja yang adil, inklusif dan berbasis kompetensi serta memberikan ruang bagi keseimbangan antara karir dan kehidupan pribadi.
Disisi lain, survei Indeed pada (2026) menunjukan bahwa meskipun menghadapi berbagai tekanan dalam dunia kerja, sekitar 77% Gen Z tetap optimis terhadap masa depan karir mereka. Optimisme ini juga tercermin dari munculnya tren menjalankan lebih dari satu pekerjaan atau sumber penghasilan. Bagi banyak anak muda, pekerjaan tidak lagi dipahami sebagai satu jalur karir tunggal, melainkan sebagai kombinasi berbagai peluang ekonomi yang dapat dijalankan secara bersamaan melalui berbagai platform digital.
Dengan memanfaatkan teknologi dan platform digital, generasi muda dapat membangun sumber penghasilan tambahan yang mereka kendalikan sendiri. Hal ini membuat mereka merasa memiliki kendali yang lebih besar atas kehidupan dan masa depan finansial mereka, sekaligus membantu menciptakan keseimbangan antara karir, kehidupan pribadi dan kesehatan mental.
Pada akhirnya, munculnya pola kerja ini melahirkan standar baru dalam memandang karir. Fenomena side hustle tidak lagi sekedar strategi bertahan hidup, tetapi juga mencerminkan bagaimana teknologi digital dan ekosistem bisnis digital membentuk cara baru generasi muda membangun kemandirian finansial di era ekonomi digital.
Meski menawarkan berbagai peluang, menjalankan side hustle juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satu yang paling umum adalah manajemen waktu. Mengelola lebih dari satu aktivitas pekerjaan membutuhkan disiplin serta kemampuan mengatur prioritas agar pekerjaan utama dan aktivitas tambahan dapat berjalan seimbang.
Jika tidak dikelola dengan baik, side hustle berpotensi menimbulkan kelelahan kerja atau bahkan mengganggu performa pada pekerjaan utama. Selain itu, penghasilan dari side hustle digital sering kali tidak stabil karena banyak aktivitas ekonomi di platform digital berbasis proyek, komisi atau performa pasar.
Oleh karena itu, individu yang menjalankan side hustle perlu memiliki perencanaan yang matang agar aktivitas tersebut tetap produktif tanpa mengganggu keseimbangan kehidupan pribadi.
Di sisi lain, berkembangnya side hustle juga menunjukan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan yang cukup signifikan. Teknologi digital membuka peluang baru bagi individu untuk memperoleh penghasilan secara fleksibel melalui berbagai platform dan ekosistem bisnis digital.
Bagi generasi muda, pekerjaan tidak lagi dipandang sebagai satu jalur karir tunggal. Sebaliknya, semakin banyak individu yang mulai membangun berbagai sumber penghasilan dengan memanfaatkan peluang yang muncul di era ekonomi digital. Seperti sering disampaikan dalam berbagai diskusi kewirausahaan digital, “di era ekonomi digital, bukan hanya pekerjaan yang berubah, tetapi juga cara kita memandang pekerjaan itu sendiri”.
Shifa Regita S.E, M.Kom
Dosen Bisnis Digital
Universitas Tarakanita
Cerdas, Berintegritas, Bermakna